Namaku Ayu. Tapi bukan berasal dari Ida Ayu. Aku tidak berasal dari kasta Brahmana atau pun Satria, aku adalah seorang Sudra. Anda tidak perlu bertanya tentang nama asliku, seperti yang tercatat dalam akte kelahiran. Ayu adalah nama panggilan yang diberikan kedua orang tuaku sejak kecil. Aku senang dipanggil Ayu karena ketika orang lain menyebut namaku itu aku merasa menjadi seorang Ida Ayu. Oleh sebab itu, jika suatu saat Anda bertemu denganku, panggillah aku Ayu.
***
Sudah seminggu ini Ayah terbaring lemas di tempat tidur. Ibu terus menemaninya sepanjang hari. Menyuapinya makan, minum obat, membasuh tubuhnya dengan handuk hangat sebagai pengganti mandi, bahkan mengurusi masalah buang air. Ayah tidak dapat beranjak dari tempat tidur karena kedua kakinya telah diamputasi. Ia mengidap penyakit kencing manis. Penyakit itu telah menggerogoti kedua kakinya, hanya menyisakan kaki sebatas dengkul. Akan tetapi, kaki tanpa betis dan telapak kaki apakah masih dapat disebut kaki? Atau ayah harus disebut hanya memiliki paha, bukan kaki. Entahlah. Yang pasti, tiadanya uang untuk pengobatan membuat ayah harus merelakan kakinya dan kini ia harus terkapar di tempat tidur karena ketiadaan kursi roda.
Demi menjaga ayah, ibu meninggalkan pekerjaannya menjual bunga dan sesaji di Pasar Sesetan, tepatnya di pinggir jalan di depan Pasar Sesetan. Oleh sebab itu, aku harus ekstra bekerja untuk mendapatkan uang. Bagus, Adik laki-lakikuyang masih bersekolah di kelas 4 SD belum bisa mencari uang. Ya, tentu saja, aku dan ibu tidak mungkin membiarkan atau mengizinkannya bekerja. Tugasnya hanyalah belajar dan membantu pekerjaan di rumah. Urusan uang biarlah menjadi tugas pokokku sementara ini.
Aku mulai bekerja sejak duduk di bangku SMP, tepatnya kelas 1. Ketika itu Ayah sudah mulai mengidap kencing manis sehingga aku memutuskan turut membantu ibu berjualan bunga, sesaji, dan perlengkapan sembahyang di pasar. Akan tetapi, sejak kedua kaki ayah diamputasi, usaha dagang kami sudah tamat. Ibu tidak memiliki modal lagi untuk membeli barang dagangan dan membayar uang pungutan di pasar. Uang yang selama ini kami tabung habis untuk membeli obat. Biaya sekolahku dan Bagus pun tak jelas lagi nasibnya.
Oleh sebab itu, aku tertarik dengan ajakan seorang kawan perempuanku, yang juga merupakan tetangga sebelah rumahku. Ia mengajakku bekerja di Pantai Kuta sebagai tukang pijat untuk para turis yang gemar berjemur di sepanjang pantai. Menurut temanku itu, yang bernama Sekar, para turis bule suka memberi uang lebih jika pemijatnya adalah gadis muda yang cantik. Menurutnya, aku cukup cantik dan bisa menghasilkan uang lebih jika bekerja di Kuta. Apalagi bulan-bulan di pertengahan tahun begini adalah masa ramai-ramainya wisatawan asing maupun domestikberwisata ke Bali. Kesempatanku mendapat uang terbuka lebar. Uang untuk pengobatan ayah, biaya makan, dan sekolah.
Hari ini adalah hari minggu. Setelah sembahyang dan meletakkan sesaji di Pura Desa aku lantas menuju rumah sekar. Aku selalu sembahyang ke Pura Desa karena keluargaku tidak memiliki pura sendiri. Kami tidak mampu membeli Purakarena harga arcanya saja bisa mencapai jutaan. Masih dengan kebaya dan kain aku mampir ke rumah Sekar. Ia juga baru sembahyang, tapi ia tidak perlu sembahyang keluar karena rumahnya memiliki Pura sendiri. Dengan bija yang masih menempel di keningnya itu, aku baru menyadari bahwa Sekar memang cantik. Hidungnya mungil namun bibirnya penuh dan memerah. Matanya yang besar seolah-olah mampu menyihir orang lain untuk memenuhi segala permintaannya.
“Hai Ayu, cepat juga kamu datang.” Ia menyapa menyambut kedatanganku.
“Iya, aku tidak sabar ingin mendapatkan uang.” Jawabku sambil menggoyangkan dompet yang kukaitkan di selendang yang terikat di pinggangku.
“Kalau begitu, marilah kita ke kamarku. Ibuku sudah berangkat ke pasar.” Ya, ibu Sekar juga berjualan bunga di Pasar Sesetan seperti ibuku, tapi ia memiliki kios sendiri—tidak sekadar menggerai meja dagangan di depan pasar.
Baru kali ini aku masuk ke kamar Sekar. Walaupun rumah kami bersebelahan, aku jarang sekali ke rumahnya karena kami memang tidak akrab. Oleh sebab itu, aku merasa beruntung karena ia mau membantuku mencari pekerjaan. Begitu masuk kamar, harum bunga-bungaan menyebar hingga ke dalam diriku. Kamar Sekar sangat menyenangkan. Ia memiliki banyak kebaya yang menumpuk di lemari yang tak berpintu. Aku dapat melihatnya dengan jelas, kebaya itu berwarni-warni, sama semaraknya dengan selendangnya yang bergantung di sudut kamar. Mejanya dipenuhi dengan lilin-lilin aromaterapi dan alat rias yang lengkap.
Aku menyimpulkan bahwa Sekar sukses dalam pekerjaannya. Walaupun rumahnya sama kecilnya denganku, isi kamarnya sangat luar biasa. Ia memiliki televisi yang sangat besar lengkap dengan peralatan elektronik pemutar film dan lagu. Ia juga memiliki banyak pakaian yang bagus. Aku sempat iri melihat kain-kainnya yang indah. Begitu pula gaun-gaunnya yang indah dan sehalus sutera. Di tengah kekagumanku terhadap isi kamarnya, Sekar menyentakku.
“Mari kita bersiap untuk kerja. Bukalah kebayamu.” Perintahnya.
“Hah? Apa, bukankah katamu kita bekerja dengan memakai kebaya. Itu adalah ciri khas kita, berbeda dengan pemijat lainnya.” Tanyaku.
“Ya, betul. Tapi ada satu hal yang perlu kau buka.”
“Apa itu?” Tanyaku lagi keheranan.
“BH-mu. Bukalah BH-mu.” Ia menunjuk ke dadaku.
“Apa maksudmu?” Aku benar-benar terkejut sekarang.
“Itulah ciri khas yang kumaksud. Kita tidak perlu memakai BH ketika bekerja. Lagipula kita memakai kaus dalam sehingga kau tidak perlu takut dadamu akan terlihat. Kebaya kita yang berbahan samar ini hanya akan memperlihatkan kaus dalam kita. Akan tetapi, dada yang polos di balik kaus dalam itu akan terlihat alami dan sangat menggoda bagi parabule. Kau tahu kan bahwa gadis-gadis bule sepanjang Kuta seringkali tidak memakai BH. Jadi kau tidak perlu merasa canggung.” Jawabnya dengan rinci tanpa menyisakan rasa sungkan kepadaku.
“Tapi, tapi?” Aku tidak tahu harus menjawab atau bertindak apa. Penjelasannya cukup membuat kepalaku pusing. Aku bingung. Apakah pekerjaan ini layak kulakukan. Apakan benar jalan itu yang harus kuambil. Apa hubungannya antara memijat para bule itu dengan aku tidak memakai BH. Pekerjaanku adalah memijat. Yang mereka nilai tentulah enak tidaknya pijatanku. Aku bingung dengan penjelasan Sekar.
“Apakah gadis-gadis pemijat lain berbuat sama denganmu?” Akhirnya aku mencoba memahami persoalan ini.
“Tidak semuanya, hanya beberapa. Dan kami sangat laris diperebutkan para bule itu. Tenang saja, kau tidak perlu malu. Kan ada aku.” Hiburnya sambil tersenyum.
“Aku mau pulang. Besok akan kuputuskan apakah ikut bekerja denganmu.” Aku mengambil keputusan untuk berpikir masak dahulu.
“Baik, kutunggu kau besok.” Ia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa aku akan kembali esok pagi.
***
Namaku Ayu. Tapi bukan berasal dari Ida Ayu. Aku tidak berasal dari kasta Brahmana atau pun Satria, aku adalah seorang Sudra. Anda tidak perlu bertanya tentang nama asliku, seperti yang tercatat dalam akte kelahiran. Ayu adalah nama panggilan yang diberikan kedua orang tuaku sejak kecil. Aku senang dipanggil Ayu karena ketika orang lain menyebut namaku itu aku merasa menjadi seorang Ida Ayu. Oleh sebab itu, jika suatu saat Anda bertemu denganku, panggillah aku Ayu.
Aku akan memijat Anda dengan pijatan yang tidak akan terlupakan kenikmatannya. Pijatanku tidak akan Anda temukan pada gadis-gadis pemijat lainnya. Aku memijat Anda dengan pelayanan ekstra. Anda dapat mengerti maksudku jika bertemu denganku. Di balik kebayaku yang menerawang, Anda dapat membingkai buah dada yang polos di balik kaus dalamku. Kita dapat melanjutkan pijatanku di kamar hotel Anda. Saya bersedia setiap saat. Tapi jangan berburuk sangka kepada saya. Saya tidak hendak menjual diri. Saya hanya memijat untuk sekadar mencari uang untuk mengumpulkan biaya Ngaben untuk ayahku yang sudah meninggal lima tahun lalu. Ini adalah tahun terakhir, batas waktu penyelenggaraan Ngaben ayahku. Di desaku, keluarga yang akan melangsungkan Ngaben hanya tiga, termasuk keluargaku, sehingga walaupun kami hanya melaksanakan satu Ngaben untuk tiga arwah, biaya yang diperlukan masihlah sangat besar. Maka maklumilah aku jika harus bekerja keras menghasilkan uang.
Jika Anda melihatku di jalan suatu hari, panggilah aku Ayu.
Dia hadir dalam kata. Kata yang tidak akan pernah kau temukan dalam kamus mana pun. Kata yang tidak akan kau dapati maknanya dalam bahasa apa pun. Dia terlukis dalam kata yang kau cari di sela-sela lembaran hari. Dia gugur dalam haru yang gusar bersama daun-daun gemintang kuning. Berkelana dalam bunga-bunga salju yang semerbak dikayuh angin. Bersemayam dalam impian Sakura yang bermekaran di sepanjang taman. Dia tertawa bersama hangat pagi yang berkilauan. Dia hadir dalam mantra para tukang sihir. Dia lahir dalam sebuah mitos. Cinta.
12 September 2006, Gedung Enam, Kampus Sastra.
Aduh, terlambat lagi, telat!!! Selalu begitu, kenapa sih setiap terlambat bangun, kereta juga mendukung lelet. Terlambat lagi deh kuliahnya! Kuliah drama yang fantastis ini.
Tok, tok!
“Pagi, Mas. Maaf terlambat.”
Kursi paling depan langsung kuhajar. Sebenarnya enggan juga duduk di depan begini. Tapi berhubung terlambat, apa boleh buat. Kursi di belakang sudah penuh. Penuh dengan orang-orang yang percaya pada sebuah mitos. Wahai mahasiswa sekalian: Posisi Menentukan Prestasi! Setuju! Aku dan teman-teman termasuk ke dalam sekte orang-orang itu.
Hari ini kami mempelajari sebuah naskah yang konon sangat terkenal. Waiting forGodot. Karya Si, ehm, ehm. Lupa, maaf. Tapi, bagi segenap anak sastra, pasti akrab atau paling tidak pernah mendengar karya fenomenal ini. Drama yang berkisah tentang orang-orang yang sedang menunggu entah apa. Aku sulit memahami karya absurd ini.
Sama seperti absurdnya pikiranku ketika hadir suara ketukan di pintu.
5 Oktober 2006, Perpustakaan, Kampus Sastra.
“Kamu gimana, sih! Ini namanya awalan me-. Dari awalan ini bisa muncul awalan lainnya, misalnya mem-, men-, meng-. Terus bisa juga digabung dengan akhiran, menjadi me-kan, meng-kan, dan lain-lain. Jadi, kata baca kalau ditambah awalan me- adalah membaca. Ngerti gak?”
“Lalu kata tidur jadi memtidur?”
“Oke, kita ulang lagi!”
Memang sulit mempelajari sebuah bahasa, apalagi persoalan gramatikal. Inilah kasusnya. Persoalan imbuhan selalu dipertanyakan oleh orang asing yang belajar bahasa Indonesia. Tapi, aku senang melihat wajahnya yang bingung itu. Ia terpekur mengamati tulisan-tulisan di depannya. Aku ingin tertawa melihat ulahnya yang sedikit-sedikit menggaruk kepala. Bergumam sendiri seolah berbicara pada sahabat fantasi yang biasa dipunyai anak-anak. Tapi, perutku sudah lapar, merengek-rengek minta makan. Maka kutinggal saja dia.
“Aku duluan ya, mau makan dulu. Teman-temansudah ke kantin. Nanti kamu nyusul, ya!”
“Oke!” Jawabnya singkat. Lantas kembali pada kertas-kertas yang berserakan itu.
Dia tahu bahwa aku akan menunggunya ketika senja menyimpan matahari dalam saku. Menguncinya dengan temaram yang mencuri-curi kelam. Aku menantinya di sudut ini. Aku dan dia selalu menghabiskan hari di sini. Orang-orang tidak pernah menyadari kebersamaan kami. Ketika aku dan dia mencuri nafas di antara rak-rak tua itu. Orang-orang tidak pernah menyaksikan kami. Ketika aku dan dia berbagi sesak karena debu-debu buku usang itu. Mereka tidak tahu. Ketika kami bercumbu dan mengulum cinta dalam kejaran waktu dan hasrat.
26 November 2006, Café La Nuit, Jakarta.
“Happy birthday, selamat ulang tahun!”
Aku memberinya sebuah kue coklat kecil dengan lilin bertanda usianya. Dia meniupnya dalam pejam mata. Lantas menciumku, tepat di bibir. Rasa manis bercampur dengan gugup yang menyerang.
“Terima kasih. Aku senang sekali.”
Dia mencium lagi pada pipiku. Aku diam tersipu. Wajahnya berkilau dalam redup. Matanya yang bulat berbinar dalam bilasan cahaya. Aku menyalahkan lilin-lilin yang menjebak aku dalam fantasi. Mendamba dirinya sepenuh hati. Sementara itu, samar terdengar bisik-bisik dalam sepi malam itu. Aku tidak peduli kata mereka. Orang-orang yang sibuk mencampuri urusan orang lain, sedangkan balita mereka di rumah menyusu jempol kaki baby sitter. Biar mereka bicara semaunya.
“Ih, tidak tahu malu, tidak bermoral! Di depan umum begitu-begitu!”
Malam itu aku tidak pulang ke rumah. Aku beralasan menginap di rumah teman pada kedua orang tua yang terpaksa menerima dengan sungut di dada. Malam itu aku tidur dalam pelukannya. Dalam hangat yang kini tak akan kau temukan di balik punggung para suami yang pulang tengah malam.
27 desember 2006, Bandara Soekarno-Hatta.
“Kamu akan nunggu aku, kan? Tunggu aku, ya. Janji?”
Aku mengutuki hari yang kuyup karena hujan itu. Seperti aku mengutuki air yang terus menetes dari pelupuk. Kepulangannya memang telah kuterima sejak awal, seperti aku menerima kehadirannya dalam sejenak hidupku. Tapi aku tidak pernah siap melepaskannya. Merelakan tangan itu bermain dengan hampa. Aku sangat mencintainya.
“Iya. Aku tunggu kamu. Ingat tempat yang aku bilang. ”
10 April 2009, Yeouido Park, Korea Selatan.
Sudah sejam aku mengurai waktu dalam bimbang. Datang, tidak, datang, tidak. Sudah bosan aku menghitung setiap helai mahkota Sakura yang gugur di sepanjang pandangan. Bunga-bunga yang malang. Mereka harus membayar jasa alam yang memberikan hangat, sebagai ganti dari dingin yang membeku, dengan merelakan satu demi satu diri mereka gugur dalam tawa para pengunjung. Orang-orang yang menyaksikan keindahan gugur Sakura. Tidak ada yang lebih indah dari kematian.
Bunga-bunga itu pun dikutuk seperti aku. Merana dalam kesendirian. Mereka tidak pernah mendapatkan hangat dedaunan hijau yang menyempurnakan harmoni alam. Begitu pula diriku. Tahun-tahun kulewati dengan merangkai mimpi bersama ia yang tak kunjung datang. Tangis pun terasa begitu dekat. Sedekat tubuhnya yang kini berdiri tepat di depanku.
“Kau masih tetap cantik. Aku sangat merindukanmu.” Pelukku dalam harum tubuhnya.
“Maaf. Aku sudah menikah…”
“Apa?”Aku bahkan tak mampu melanjutkan tanya.
“Pria itu begitu baik. Ia memahami kekuranganku, menerimaku apa adanya. Maafkan aku.”
“Sedangkan aku? Di mana cinta itu? Aku dan kau adalah satu. Kita saling mengisi, bukan?”
“Kita begitu sama. Kau adalah aku. Kita tidak saling mengisi. Kita mengingkari diri sendiri.”
“Bagaimana mungkin. Cinta itu tidak mungkin lenyap begitu saja. Kau keliru. Aku telah menepati janji. Aku menyusulmu. Apakah perbedaan bangsa dan agama menjadi sebabnya? Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Lihat, bahkan bahasa Indonesiamu begitu baik sekarang. Kau masih mencintai aku, kan?”
“Bukan. Kau tidak akan menemukan dirimu dalam diriku. Dengan begitu kau hanya akan mendapat bahagia yang semu, sementara saja.”
Aku tidak tahu lagi apa yang ia katakan. Aku seperti melayang di dimensi lain. Tiba-tiba aku sudah berada di samping jendela pesawat Korean Air, pulang menuju asal. Aku lupa apa saja yang telah dikatakannya. Yang aku ingat ia masih tetap cantik. Ia masih mengikat seluruh rambutnya ke atas sehingga lehernya yang putih mulus seperti menantang hasrat yang telah kujaga selama ini. Seolah berkata: “Lihat, aku begitu cantik. Kulitku halus dan putih. Mataku bulat dipadu hidung yang mungil dan bibir yang melengkung indah. Kau, kau adalah Si Itik Buruk Rupa. Lihat kulitmu yang kasar. Wajahmu tidak mewakili keindahan yang seharusnya engkau miliki! Kau tidak pantas untukku.”
Tapi, bukan itu yang menjadi soal. Andaikan ia menolak karena penampilanku yangburuk. Andaikan ia menyebut agama, bangsa, atau apa pun. Kini aku pulang begitu saja. Dengan setumpuk rencana yang tersusun rapi untuk digenapi. Ah, semuanya terasa begitu cepat. Kehadirannya begitu singkat, tapi menyisihkan suka, duka, luka, yang temurun.
12 September 2006, Gedung Enam, Kampus Sastra.
Tok, tok!
“Pagi, Mas. Maaf terlambat.”
“Aduh, Nona Dewi ini. Kenapa selalu terlambat kuliah saya?”
“Maaf Mas Ibnu, keretanya terlambat, katanya ada gangguan listrik di Manggarai.”
“Oh, jadi setiap Selasa ada gangguan listrik, ya!”
Hahahaa, seisi kelas pecah karena tawa.
“Ya sudah, sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa kita akan kedatangan mahasiswa pertukaran dari negara lain. Namanya…”
Tok, tok, tok!
“Nah, itu dia.”
Jakarta, April 2009.
*teruntuk Christina [Lee Hyun Jee] yang telah membingkai gugur sakura dari musim yang bersemi di Seoul.
7 Desember 2008, 7.30 a.m., Incheon International Airport.
Aku tersentak bangun ketika suara kapten pilot meraung lewat headset yang terpasang di telinga. Aku menggerutu dalam hati, lupa mencopot benda itu sebab terlena dibuai kantuk. Kapten memberitahu bahwa 30 menit lagi pesawat mendarat di Incheon dan suhu udara kini adalah minus empat derajat Celcius.
Debaran jantungku menjadi kacau, bukan karena getaran pesawat yang menurun dan hentakan roda kecilnya ke aspal, melainkan getaran yang lain, berbeda, terasa asing. Itu bertambah parah ketika aku harus lama mengantri untuk pemeriksaan imigrasi. Orang bule itu mungkin bermasalah. Aku pindah jalur antrian. Pasangan suami-istri dari Indonesia dengan anak yang berjejer, lima orang kecil-kecil.
Aku? Aku! Sendiri...
Segera kucari ia di sela-sela lembaran tiket dan paspor. Tak ada. Ia menguap. Kucari orang yang merokok, siapa tahu ia di sana. Nihil. Mana mungkin ada orang merokok di ruangan ini. Hhh... kucari lagi pada anak demi anak tangga eskalator yang menurun, namun semakin ke bawah ia semakin menghilang. Di antara koper-koper tergeletak belum diakui pemiliknya, terus kuintai ia.
Ah, ia menghilang lagi. Menguap.
Bandara yang lapang ini seolah mengejek kesendirianku. Aku tersesat dalam kelapangan ini. Ketika kulihat pintu keluar, lantas aku lari. Berharap dapat mengejarnya.
Huiss....
Angin yang membekukan menerpa wajah. Kontan hidungku sesak dan kepala pening. Tubuh gemetar tak terduga. Aku terhuyung-huyung melawannya. Ia menjadi udara yang melayang bebas, menembus hatiku.
7 Desember 2008, 7.45 p.m., Myeongdong Shopping Street.
Ia menjadi uap yang menyeruap dari kepekatan Espresso. Aku tergesa-gesa menghirupnya. Terlambat. Ia menyelusup lewat jendela yang dibuka wanita itu. Yang sedari tadi tak henti mengembuskan asap lewat hidung dan mulut. Asap-asap itu berebut menyusup ke dalam mantel dan syalnya yang tersampir di kursi. Bahkan ada yang meluncur turun melesat ke dalam boots-nya. Ah, aku lengah sehingga terlupa ke mana ia pergi.
Dari balik jendela kaca itu, ia menantang. Beribu-ribu berterbangan ke sana ke mari dikayuh angin. Aku tahu ia sedang menggodaku. Lantas aku bangkit hendak menangkapnya. Terlambat lagi. Ketika aku turun dan menghajar pintu demi memeluknya, ia lari menjauh. Ia tinggal putih yang menghiasi jalan dan terpal-terpal yang menutupi dagangan orang. Ia tinggal basah yang membuat aku berkali-kali tergelincir hampir terjatuh. Aku pulang dalam kuyup. Menyusuri butik-butik, toko kosmetik, kedai kopi, dan restoran, Korean dan junkfood, di Myeongdong. Menuruni stasiun metro tembus ke Lotte Department Store. Menuju hotelku.
8 Desember 2008, 8.25 a.m., Room 2925 President Hotel.
Di antara udara yang mengembun di balik kaca, kubelai ia. Tapi, ia lenyap bersama usapan jemari. Kubantu dengan embusan nafasku. Ia mencoba ada. Lalu tiada. Kupindahkan pandangan lebih jauh. Ke arah gunung-gemunung di ujung sana. Terlalu jauh. Tak tampak. Lalu kulihat ia di atap gedung-gedung itu. Ada jejak-jejaknya. Sisa perburuan semalam. Namun jejak-jejak itu surut bersama angin. Bersama hangat matahari yang malu-malu. Dan buldoser pun menguruknya bersama pasir di balik gedung City Hall.
9 Desember 2008, 11.17 a.m., N Seoul Tower.
Kurogoh koin-koin yang semalam kumasukkan asal ke dalam tas. Beberapa keping 100 Won kuambil. Ternyata tak cukup untuk menggunakan teropong itu. Untung ada mesin penukar koin. Kuselipkan selembar seribuan, dua koin 500 Won berdenting. Segera kumasukkan pada sebuah teropong yang menganggur, di hadapan kaca yang bertuliskan Jeju Island 1,211.09 km.
Kupicingkan mata agar dapat memandang ia dengan jelas. Aku bingung. Berbagai arah kuamati, ia tak hadir jua. Tiba-tiba setitik cahaya berkilat menyilaukan sebelah mataku. Itu dia. Di sana. Tapi entah. Aku tak bisa membedakan mana utara-selatan, mana barat-timur. Andai pun tahu, percuma, aku asing di kota ini. Yang pasti ia tak berada di gunung Namsan ini, ia ada dalam sebuah sudut.
9 Desember 2008, 8.15 p.m., President Hotel Lobby.
Aku bertemu dengan teman lamaku, pria Korea yang pernah kuliah satu semester di kampusku. Kusebut ia dengan haraboci, kakek.
“Haraboci, apa kabar!” Teriakku sambil memeluknya erat. Kepalaku mampir di dadanya. Haraboci tambah gemuk, mungkin karena porsi makanan Korea yang extra large. Haraboci mengajak sahabatnya datang untuk dikenalkan. Maka kami menunggu di lobi. Dan ia pun datang. Langkah demi langkah...
Putih.
Ia begitu putih.
“Kenalin, namanya Panda. Dia kayak Panda kan, yang dari China.” Haraboci memulai dengan tawa lepas. Kami bersalaman. Panda. Putih...
“Ani, Lee Pan Jin”, ia meralat.
Aku resah. Kami belum berbicara. Ia tidak bisa bahasa Inggris, terlebih Indonesia. Ia terus bercakap dengan Haraboci. Tiba-tiba menoleh padaku dan berkata, “Cantik!”
Aku beku dalam diam. Ditemani angin yang terus bergulung. Menatapnya dalam putih. Hari ini ia tidak menjadi uap ataupun kapas-kapas dingin yang berterbangan.
Ia ada.
10 Desember 2008, 9.45 p.m., Room 2925 President Hotel.
Ia tinggal dalam kata. Dalam huruf-huruf neon yang berbaris di puncak gedung Samsung itu. Ia ada dalam setiap titik yang membentuk kata itu. Happy Forever. Aku bermalam dengan kata-katanya.
11 Desember 2008, 10.05 a.m., President Hotel Lobby.
“Maaf Haraboci, udah nungggu, kamu udah sarapan?”
“Belum, nanti aja. Ayo pergi!” Ajak Haraboci, menariktanganku. Udara pagi ini tak terlalu dingin, matahari lebih terik daripada beberapa hari lalu. Kami turun ke stasiun metro City Hall. Haraboci sempat salah jalan. Aku menertawainya.
“Masa’ orang Korea gak tahu jalan, tinggal di kampung, ya?” lagi aku meledek tempat tinggalnya yang lumayan jauh dari Downtown Seoul (Walaupun kuakui stasiun ini memang rumit karena merupakan stasiun transfer, tempat penumpang ganti jalur kereta).
“Yangjae itu kalau di Jakarta, Pondok Indah, tempat rumah orang kaya.”
Jawabnya nyengir dengan bahasa Indonesia khas logat Korea.
Kami naik kereta jalur 1. Dari City Hall menuju Seoul Station lalu Namyeong dan sampailah di Yongsan. Menurut Haraboci, harga barang elektronik di sini lebih murah.
“Haraboci udah lapar belum, mau makan?” tanyaku usai belanja.
“Udah kenyang, tadi udah merokok dua batang,” Haraboci menjawab dengan konyol. Aku tertawa. Lagi-lagi lelucon itu, rokok bisa membuat perut kenyang.
Pun begitu kami bersantap ria di sebuah restoran Korea. Haraboci memesan mi pedas, mi dingin, dan kimbab. Jatahku adalah mi dingin, naengmyon. Seharusnya mi ini dinikmati saat musim panas, tapi Haraboci memaksa aku mencobanya. Mi ini seperti bihun, tapi berwarna hijau. Kuahnya dicampur dengan remah-remah es batu.
Kubalik serpih demi serpih es batu itu, kusibak, ia tak ada. Ah, di mana ia, aku sangat merindukannya. Seharusnya ia selalu ada di dekatku, walaupun ia suka kelana ke entah. Aku tahu ia ada.
“Haraboci, teman kamu kok gak ikut?”
“Panda? Dia kerja pulang malam.”
.....
12 Desember 2008, 11.20 a.m., KAL Limousine Stop at Lotte Hotel.
Dia menghilang.
Apakah ia menguap habis mengembun luruh mencair kuyup. Dalam kata pun tak kudapati ia.
Ataukah karena ia menjadi. Mewujud.
Aku menyesal telah menolak pelukannya. Kukira kami masih akan bertemu. Ternyata ia hanya memberi sehari. Andaikan ia kuraih saat itu mungkin ia tak akan lepas lagi dan mengembara bebas. Mungkin ia akan menyusup pada tubuhku dan tinggal di dalam darah. Pulang bersamaku. Tapi, kini...
Dadaku sesak, hatiku panas...
Aku ingin dingin itu!
Pun salju tak akan singgah di balik kaca kamarku...
Berangkat dari sebuah pernyataan yang disampaikan Medy Loekito dalam Jurnal Perempuan No. 30 Tahun 2003, terbetik sebuah tanya dalam hati. Sebegitu komplekskah masalah penulisan sastra saat ini? Sastra harus menjadi sumber moral dan intelektual. Sebegitu beratkah beban yang harus dipikul karya sastra. Tulisan ini paling tidak ingin menanggapi hal tersebut.
…Dengan ditasbihkannya penulisan seks secara gamblang tersebut sebagai karya sastra fenomenal, kini mulai tampak kecenderungan para penulis, baik pria maupun wanita, berbondong-bondong kulakan kata vagina, penis, dan yang sejenisnya. Perihal sekitar seksualitas dan erotisme menjadi tema yang paling diminati dan digandrungi. Kata “tabu” menjadi kata paling asing dalam sastra dewasa ini. Semakin terbuka sebuah tulisan, semakin riuh pembaca bertepuk tangan, dengan catatan: penulisnya kudu perempuan, sebab kalau bukan perempuan, disebutnya penulis cerita porno, bukan sastrawan. (hlm. 70)
Pernyataan tersebut merupakan reaksi kritis atas maraknya perempuan penulis (menggunakan istilah Jurnal Perempuan) yang merayakan kebebasan diri mereka melalui tulisan yang mengeksploitasi tubuh perempuan, tubuh mereka sendiri. Tak dapat dinafikan bahwa gejala penulisan populer ini mengingatkan kita pada fenomena sastra populer yang lampau, pada tahun ‘60—’70-an.
Ketika itu, Motinggo Busye, penulis populer paling produktif , mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama kritikus sastra, mengenai nilai seni karya-karyanya. Hal ini terjadi pada ceramah berjudul “Thema2 Jang Saja Pilih” yang diadakan Busye untuk membahas karya-karyanya pada 9 November 1969 di Teater Arena TIM. Satyagraha Hoerip mempertanyakan jikalau karya-karya Busye masih mempunyai iktikat literer atau berdasarkan pertimbangan hiburan semata. D.S. Muljanto pun menambahi jikalau karya-karya yang digemari anak muda tersebut hanya dibuat berdasarkan pesanan. Busye menjawab, “literer atau tidak itu terserah pada para kritisi untuk menilainya, tapi tugas seorang pengarang adalah mengarang.” Lebih lanjut, karya-karyanya dianggap porno dan dilarang peredarannya oleh pemerintah karena dinilai dapat merusak moral masyarakat dan mendorong perbuatan asusila.
Hal ini paling tidak menunjukkan bahwa apa yang disampaikan Loekito benar adanya: bahwa kalau yang menulis soal seksualitas dan erotisme harus perempuan, kalau laki-laki akan dicap penulis porno. Namun, perlu dicatat bahwa pernyataan ini muncul sebagai kritik Loekito terhadap perempuan penulis yang terlalu bangga menulis tubuh (seksualitas) mereka sebagai bentuk pemberontakan terhadap tradisi sastra yang patriarkat, dan lupa bahwa hal tersebut justru menjadi senjata makan tuan, menjebak mereka dalam pelecehan terhadap diri sendiri dan sesamanya (perempuan) yang menjurus pada pornografi semata. Secara etimologis, seksualitas adalah ‘ciri, sifat, atau peranan seks, dorongan seks, kehidupan seks’ (KBBI, 2005: 1015). Erotisisme atau erotisme adalah ‘keadaan bangkitnya nafsu birahi’ dan ‘keinginan akan nafsu seks secara terus-menerus’ (Ibid., 307). Mengacu pada definisi tersebut, kutipan berikut dapat mewakili peristiwa yang dimaksud.
... Sepasang manusia sedang dalam kenikmatan, yang lelaki sedang memangku yang gadis di atas sebuah kursi, yang membelakangi jendela. Keduanya tak tahu bahwa aku melihat mereka. Keduannya begitu asyik dalam terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi. Tris menyerang pada bagian leher gadis itu, kemudian mendesaknya pada sebuah lipatan kaki yang menggerumul, seakan-akan gadis itu terjepit. (Busye, 1970: 98—99)
Tetapi lelaki itu belum habis menghujamkan zakar, dalam pandangan semua binatang di taman (kelak mereka lalu menirunya, dan anak-anak mendengar dari orang tua mereka sebagai permainan perang-perangan). Pinggulnya bergoyang hingga cair kelenjarnya menyembur di dalam liang, yang harum birahi. (Utami, 1998: 198)
Berdasarkan dua deskripsi hubungan intim atau persenggamaan tersebut, terlihat style dan, bahkan tone, yang sangat berbeda. Busye mengungkapkan persenggamaan dengan bahasa yang metaforis dan konotatif: sedang dalam kenikmatan, terkaman-terkaman yang saling bertubi-tubi, bagian leher gadis itu, sebuah lipatan kaki yang menggerumul. Walaupun terasa hiperbola, namun ungkapan tersebut berusaha membahasakan hubungan intim manusia dengan baik. Lain lagi dengan Utami, gayanya realis dan denotatif: menghujamkan zakar, pinggulnya bergoyang, cair kelenjarnya menyembur di dalam liang, harum birahi. Ungkapan tersebut terasa begitu eksplisit dan bernada (tone) berani, cenderung kasar.
Bandingkan ungkapan senggama antara sedang dalam kenikmatan dan menghujamkan zakar. Busye memperlihatkan bahwa hubungan intim berupa penetrasi penis ke dalam vagina sebagai pengetahuan bersama yang tak perlu diutarakan lagi secara eksplisit. Asosiasi makna yang diciptakan masing-masing pembaca tentu akan terasa lebih nikmat dan efektif, melihat karya sastra sebagai sumber apresiasi seni. Upaya Utami dalam membahasakan senggama dengan nyata dan jelas, menjerumuskan pembaca dalam sebuah realitas yang memonopoli kebebasan akal dalam berkreasi.
Melihat perbandingan penulisan seksualitas tersebut, sesungguhnya kita bisa mengetahui semangat zaman apa yang melingkupi mereka. Busye dengan masa populer ’70-an yang penuh romantika dan sentimentalitas, dan Utami dengan masa populer kini yang menempatkan seksualitas sebagai upaya pembebasan diri, membahasakan tubuh. Namun, perlu diingat kembali perihal cap porno yang menimpa Busye. Penjelasan di atas paling tidak mengajak kita untuk seyogyanya berlapang dada memaknai sebuah karya. Menurut sejarah, porno berasal dari bahasa Yunani porne, yaitu ‘pelacur’. Pornografi adalah ‘penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi’ dan ‘bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks’ (KBBI, 2005: 889).
Persoalan pornografi dalam sastra tidak terlepas dari dua kriteria, yaitu organis atau tak organisnya unsur seks dan permainan atau kesungguhannya (Sastrowardoyo, 1971: 24). Karya yang pornografis adalah karya yang memasukkan unsur seksualitas dan erotisme sebagai kesatuan yang tidak organis (tidak mendukung kesatuan cerita dan suasana, merusak estetika karya seni, dan dapat dihilangkan karena tidak fungsional) dan menggambarkan seks sebagai unsur permainan, bukan kesungguhan (sebagai amanat pokok yang ingin dicapai karya). Selain itu, penyikapan terhadap pornografi tergantung pada konteks sosial zaman. Lapisan masyarakat, baik atas, menengah, maupun bawah, dan generasi, tua dan muda, yang berkompromi menentukan pertimbangan atas batas-batas nilai pornografi yang bersumber dari nilai-nilai moral umum (Ibid., 28).
Dalam kaitannya dengan fungsi sebagai sumber moral dan intelektual, maka penjelasan di atas dapat menjadi acuan dalam menyelami sebuah karya, dan akhirnya menentukan baik-buruk. Kita harus mendalami karya terlebih dahulu dan tidak buru-buru mencap porno sana-sini. Mengenai begitu beratnya beban yang harus dipikul karya sastra, tampaknya tidak perlu dipertanyakan lagi. Itu sudah menjadi risiko yang harus ditanggung sebuah karya karena menjadi buah pikiran manusia, si pencipta moral dan penurut moral. Akhir kata, Bacalah sebelum Berkoar!
Sumber Pustaka Busye, Motinggo. 1970. Kutemui Dia. Jakarta: Lokajaya. Loekito, Medy. “Perempuan Sastra Pria”, Jurnal Perempuan Nomor 30 (Juli 2003), 65—76. Sastrowardoyo, Subagio. 1971. Bakat Alam dan Intelektualisme. Jakarta: Pustaka Jaya. Tim Penyusun Pusat Bahasa Depdikbud. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Cetakan Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia. “Karangan2 saja punja mission, kata Motinggo”, Pedoman Nomor 336 Tahun 21 (10 November 1969). “Motinggo Busye: Dari Pop ke Sastra”, Pelita Nomor 3185 Tahun XI (13 Maret 1985). “Pembersihan Buku2 Porno”, Warta Harian Nomor 859 Tahun IV (22 Mei 1969). “Razia Buku2 Merangsang”, Indonesia Raja Nomor 99 Tahun 21 (10 April 1969).
Kosmologi Cerpen Korea (Selatan): di antara Laut, Pabrik, dan Kereta Api.
Membaca cerpen, sebagai anak dari genre prosa, ternyata tidak melulu sempit seperti pembatasan halaman maupun panjang karangan yang mencirikannya. Cerpen juga memiliki kualitas cerita yang sama padatnya dengan novel, anak lainnya prosa, baik dari segi penokohan, alur, maupun konflik cerita. Ada kalanya kita dapat melepas kaca mata kuda yang dipakai dalam memandang sebuah karya. Diperlukan pandangan yang luas dan pikiran terbuka untuk menyelami sebuah karya, tidak hanya berkutat pada konvensi. Damono (2004: xii) dalam sebuah kata pengantar menyatakan bahwa dalam cerpen mungkin saja terbentang kehidupan yang sama dahsyat dan luasnya dengan yang kita jumpai dalam novel Tolstoy ataupun haiku Basho.
Di Indonesia kita terbiasa dicekoki dengan karya-karya masterpiece dari negeri Barat lewat beberapa laureat Nobel Sastra. Sebut saja T.S. Elliot (Inggris), Pearl S. Buck dan Ernest Hemingway (Amerika Serikat), Albert Camus dan Jean Paul Sartre (Prancis), Boris Pasternak dan Mikhail Sholokhov (Rusia), Samuel Beckett (Irlandia), dan Pablo Neruda (Cile). Jika melirik Asia, mencuat nama Rabindranath Tagore (India) dan Yasunari Kawabata (Jepang). Karya mereka yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dapat kita temukan di rak-rak toko buku. Kendati demikian, karya dari belahan benua kita sendiri terasa sangat kurang. Padahal Asia pun kaya akan alam dan budaya. Kenapa hanya Buddha (Deepak Chopra) dan Totto-chan (Tetsuko Kuroyanagi) yang menyedot pandangan kita di toko buku. India lagi. Jepang lagi. Semiskin itukah karya-karya dari Asia.
Di tengah kepengapan itulah muncul seberkas angin segar. Korea (Selatan) membagi semarak warna-warni dunia sastranya lewat kumpulan cerpen Laut dan Kupu-kupu yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Penerbitan ini adalah bentuk kerja sama antara Indonesia dan Korea yang digawangi oleh Koh Young Hun dan Tommy Christomy. Sebagai pengajar yang pernah mengabdi di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul (2005—2007), Christomy mengenal baik serba-serbi kehidupan Negeri Ginseng itu sebagaimana teman sejawatnya, Koh Young Hun. Timur dan Tenggara pun bersatu padu memamerkan kebudayaan dan kesusatraan.
Dengan tangan dingin Hamsad Rangkuti, dua belas cerpen Korea (Selatan) dari dekade 1950-an sampai 2000-an terasa begitu nyaman dinikmati. Perbedaan bahasa dan istilah dapat disiasati dengan diksi yang memukau. Membaca kumpulan cerpen ini seperti membaca karya anak negeri sendiri. Perbedaan kebudayaan yang merintangi pemahaman cerita lenyap oleh kematangan citra penyampaian. Kehadiran kesusastraan ini tentu sangat menguntungkan. Pembaca memperoleh cakrawala baru dalam apresiasi seni, sedangkan pengamat (kritikus) mendapat mangsa baru yang dapat menawarkan rasa lapar akan santapan bermutu dan memuaskan. Pembicaraan atas cerpen-cerpen Korea yang ceritanya membentang luas tentu menjadi aktual dan menarik.
Seperti belahan dunia lain di Bumi, Korea tak luput dari daulat peperangan. Jika Indonesia disibukkan dengan kolonialisasi Belanda dan Saudara Tua Jepang, maka Korea berkutat pada konflik yang berujung perang dingin. Saudara sekandung terpaksa berpisah karena perbedaan konsep: ideologi dan kebangsaan. Figur IbuKorea tak mampu menaungi AnakKorea sehingga terpecah ke Utara dan Selatan. Namun dalam jiwa mereka berkecamuk rindu dan dendam: rindu pada persatuan lampau, dendam pada perpecahan kini. Jiwa adalah manusia; yang selalu menjadi korban keadaan yang menjungkirbalikkan.
Jiwa yang haus akan dongeng kanak-kanak yang penuh fantasi dan mimpi pun menemukan dirinya pada sastra.Sebagaimana manusia menemukan Realitas Tertinggi dalam dirinya sendiri melalui akal budi, kesusastraan pun berlaku sama. Sastra mendapati Realitas Tertinggi dalam dirinya melalui hamparan cerita mahadahsyat yang diwakili oleh tangan pengarang. Pena-pena bergerak dari satu mimpi ke mimpi lainnya, dari satu realitas ke realitas lainnya.
Manusia dan peperangan jiwa dan fisik mewujud dalam cerpen Korea (Selatan) dekade 1950-an. Cerpen “Dua Generasi Teraniaya” karya Ha Geun Chanmenyampaikan perasaan seorang Ayah dan putranya dengan penuh haru. Hakikat perang adalah mengorbankan rakyat sipil. Tentara pun merupakan rakyat sipil di lain pihak. Peran ganda ini yang tersemat pada diri Mando. Ia pernah menjadi tentara dan mengorbankan salah satu lengannya, lalu menjadi rakyat sipil yang menanggung derita karena putranya ganti berperang.
Putranya, Jinsu, bernasib sama, kehilangan salah satu kakinya. Realitas memang tak selalu berakhir dengan hal yang serba ideal dan sesuai dengan keinginan. Ayah bertangan buntung, anak berkaki buntung. Dua generasi ini kembali pada masa kepompong: buruk dan tidak sempurna. Namun, mereka akan menempuh sebuah tahap dalam siklus hidup yang tentu berujung baik, menjadi kupu-kupu. Menjalani masa-masa damai dengan saling melengkapi. Jerih payah Mando menggendong Jinsu menyeberangi titian sungai tentu adalah romansa tersendiri.
Kesatuan perasaan ditemukan dalam kumpulan cerpen ini. Adanya keterbukaan dan keinginan mengemukakan segala persoalan dalam diri dan masyarakat. Pergolakan itu seolah diangkat dari kedalaman laut dan diantar ke pesisir agar disaksikan oleh semua orang. Dalam “Seoul Musim Dingin 1964” karya Kim Seung Ok, tokoh Bung Kim dan Ahn bertemu dengan seorang pria di sebuah sonsuljip, warung minuman keras dan makanan. Si Lemah, sebutan pria itu, baru kehilangan istrinya akibat radang selaput otak. Ia mengajak Bung Kim dan Ahn untuk menghabiskan uang empat ribu won hasil menjual mayat istrinya.
Tindakan tersebut sungguh ironis dan menyedihkan. Itulah hidup. Meskipun berat, harus dihadapi. Sebuah peristiwa yang mungkin sangat pribadi dapat saja dikuak jika begitu mengganjal. Si lemah yang kehilangan arah dan tujuan tidak ingin mengakhiri hidup seorang diri. Manusia kembali pada kodratnya, selalu membutuhkan orang lain. Bunuh diri adalah jalan yang harus dihargai. Keberanian untuk mengakhiri hidup yang konon belum waktunya tentu merupakan pilihan yang luar biasa.
Laut sebagai galeri segala persoalan yang bercampur aduk dalam kehidupan telah melukiskan perjalanan berat kaum buruh yang memberontak pada dekake 1980-an. Di tengah gelombang industrialisme, ada kapitalisme dan borjuisme yang mencekik leher kaum bawah. Ketika industri semakin maju, manusia semakin mundur kualitas hidupnya. Upah minim dan penderitaan fisik buruh berbanding terbalik dengan pemilik modal yang mandi emas. Karl Marx dan materialismenya sangat mengutuk ketimpangan status sosial ini. Manusia teralienasi, merasa terasing dari kodratnya sendiri karena sistem yang menindas. Dengan upah yang kecil pekerja terus dipaksa membanting tulang. Kaum buruh harus bangkit dan menuntut hak mereka karena merekalah penentu produksi.
Cerpen “Dinihari ke Garis Depan” dengan rinci mengalirkan suasana dan emosi setiap tokoh. Melalui alur maju dan mundur, kita seolah diajak menonton setiap adegan dalam perjuangan para buruh perempuan PT Se Gwang dalam menuntut kenaikan upah harian.Sebagai kaum tertindas, mereka protes terhadap kesewenangan, terlebih setelah menyaksikan kematian Cheol Sun, Sang Pendiri Serikat Buruh. Dengan pesan “luka buruh harus diobati dengan perjuangan”, mogok selama lima bulan dijalani Min Young, Mi Jeong, dan buruh lainnya—di antara makanan yang seadanya dan musim yang membekukan. Realisme jelas hadir di sini: ketika sastra tidak membatasi diri pada kenyataan idyll atau lingkungan hidup elit saja (A. Teeuw, 2003: 192).
Pada hakikatnya karya-karya sastra selalu mengembuskan semangat zaman dan napas lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya (Andre Hardjana, 1981: 11). Lalu semangat apa yang berkumandang di sini, napas apa yang bergejolak; bahwa perjuangan manusia untuk memilih dan menentukan nasib tidak ada habisnya. Harus terus dipertahankan selama kita bernaung di dunia. Pantai yang penuh limbah pabrik pun masih setia menaungi burung-burung camar, meski tak mampu memberikan penghidupan layak. Buruh tak ubah burung camar, tetap bertahan di kubangan hitam itu. Yang membuat perbedaan adalah usaha untuk memperbaikinya menjadi kubangan yang nyaman dan menghidupi. Cerpen ini adalah sebuah hidangan utuh, representasi atas sepenggal masa.
Persamaan nasib mampu menyatukan perbedaan dan membangun tonggak yang kokoh. Perjuangan buruh PT Se Gwang pun adalah bentuk nasionalisme dari perspektif yang lain. Dari kebersamaan dan rasa sepenanggungan kaum buruh. Namun, cerpen “Sungai Dalam Mengalir Jauh” karya Kim Yeong Hyeon justru menghadapkan nasionalisme dan komunisme dalam sebuah lingkaran. Kakak beradik Man Gi dan Gi Ho hidup di tengah masyarakat yang menghujat komunisme. Gi Ho yang ikut berdemonstrasi di kampus dijebloskan ke penjara dan dianggap anak golongan merah. Dalam cerpen “Kerja, Nasi, Kebebasan” karya Kim Nam Il, persoalan beralih pada lingkup pribadi seorang pekerja. Fokus pada pergulatan individual, sebuah konflik batin yang mendalam. Seorang pria terjebak di antara pekerjaan yang berat, penghasilan demi sesuap nasi dan biaya untuk keluarga, dan jeruji besi yang mengancam kebebasan. Keresahan dan kebimbangan mengintai di sela-sela semangat untuk bangkit demi Ibu.
Kebangkitan kaum buruh bermula dari industrialisasi yang merajalela di berbagai daerah di Korea pada tahun 1970-an. Mengikuti revolusi industri yang terjadi di Inggris pada abad sebelumnya. Kapitalisme memegang kendali. Sementara itu, lingkungan alam dan kehidupan masyarakat berubah. Lahan pertanian dihajar dan pembangunan melesat. Gedung-gedung dan pabrik bertahta. Pola pikir masyarakat berubah. Dari kolektivisme dan paguyuban berubah menjadi individualisme dan egoisme.
Cerpen “Jalan ke Sampho” karya Hwang Sok Yong dan “Bung Kim di Kampung Kami” karya Lee Moon Goo dengan gamblang memaparkan perubahan sosio-ekonomi yang terjadi. Dalam “Jalan ke Sampho”, Young Dal bertemu Chung yang ingin pulang kampung ke Sampho. Meskipun sudah sepuluh tahun pergi dan tidak ada orang yang dikenal di Sampho, ia memutuskan kembali. Rasa cinta dan memiliki kampung halaman mampu menyemangati jiwa Chung yang membeku. Salju yang menggunung tak menjadi penghalang. Young Dal yang semula berlawanan arah tujuan pun memutuskan jalan bersama Chung. Lalu mereka bertemu Baek Hwa, wanita penghibur yang sedang melarikan diri dari majikannya. Perempuan berumur dua puluh tahun itu begitu menderita, terjerat dalam dosa. Ia adalah korban dari kepentingan ekonomi majikannya, sebuah komoditi bisnis.
Modernisasi pun menghantam Chung. Kampungnya yang penuh dengan ikan dan kentang sudah rata dengan tanah. Pembangunan hotel dan pasar telah menyingkirkan desa tercinta. Ia pulang dengan rasa kehilangan tempat bersandar, sedangkan Young Dal melihatnya sebagai peluang kerja. Perubahan zaman memang mulai mereka sadari. Melalui Baek Hwa, mereka dapat melihat manusia masa kini yang berusaha bertahan dengan tuntutan zaman. Namun, Young Dal dan Chung belum siap bertempur dengan zaman. Berikut kutipan dialog mereka.
“Bukan. Maksudku Baek Hwa. Perempuan seperti itu... tidak bisa bertahan di kehidupan kampung tiga empat hari.”
“Tergantung siapa orangnya. Tapi aku pikir pun begitu. Zaman ini keaadan manusia cepat berubah... ” (Laut dan Kupu-kupu: 70)
Kepiawaian Hwang Sok Yong dalam menggambarkan perubahan zaman senada dengan Lee Moon Goo yang mengisahkan keterasingan kehidupan desa dalam cerpen “Bung Kim di Kampung Kami”. Ketika musim panas menyergap, sawah-sawah di Kampung Nolmi di Desa Musori kekeringan. Biasanya para petani akan menyalahkan langit dan mencari bantuan pada Dinas Pengairan. Seiring perkembangan zaman mereka sadar harus berusaha sendiri menyiasati ulah alam.
Kim Sung Du pun berpikir demikian. Sawahnya yang terletak di ketinggian membuat air bendungan tidak dapat mengalir ke sana. Ia meminjam uang demi membeli selang dan menyewa pompa untuk menarik air. Namun, Kim dituduh mencuri air. Ia kecewa dan marah. Kekeringan harus segera ditangani karena manusia butuh makan dan uang. Tak terasa lagi kebersamaan dan kekeluargaan sebuah kampung. Setiap orang mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok, tanpa memikirkan orang lain. Modernisasi telah melanda perkotaan dan banyak istilah asing dipakai, misalnya satuan luas hektar. Namun, kampung tidak merasakannya. Hanya sistem sosial masyarakat yang berubah, sedangkan ekonomi tetap sama. Petani tetap miskin dan luas sawah mereka masih sebatas pyong (kira-kira3 m2). Industrialisasi tidak serta-merta memberi kehidupan yang maju dan lebih baik.
Nuansa inovatif muncul pada perjalanan kesusastraan Korea dekade 1990-an. Kisahan cerpen mulai beralih pada lingkup pribadi. Bereksperimen pada pribadi manusia dan hubungan emosionalnya dengan manusia lain; hubungan kakak-adik, ayah-anak, dan suami-istri. Tema yang menyempit menawarkan kedalaman cerita yang menawan. Realisme mulai lengser dengan inovasi pada mitos dan magis. Tokoh bertukar-tukar sejalan dengan kelincahan cerita dan latar. Kesedihan dan kenangan akan perang telah berlalu dan berganti dengan konflik pribadi. Dalam cerpen “Kisah Singkat tentang Pekarangan” karya Shin Kyong Suk, mitos hantu berkeliaran semaunya di antara jalinan alur dan penokohan. Kenyataan dan magis bercampur aduk menyebabkan kerancuan. Sesuatu yang tadinya menakutkan dan tidak diterima akal sehat berubah menjadi sebuah realitas yang berterima.
Tokoh ‘Saya’ adalah seorang laki-laki yang menghadapi kehidupan hampa setelah ditinggal pergi adik perempuannya yang menikah. Rasa kesendirian mencuat di antara pencarian Si Saya akan sebuah apartemen baru. Di sela-sela kenangan dan kerinduan pada adiknya, Saya bertemu dengan gadis yang selalu mendekap seekor ayam. Gadis itu selalu hadir di tengah kehampaan dan rasa bosan Si Saya. Meskipun gadis itu adalah hantu yang datang dan pergi lintas ruang dan waktu, kehadirannya mengobati kesendirian Saya. Pencarian gadis itu akan orang yang melupakannya, saudara laki-laki kembarnya, serupa dengan rasa kehilangan Si Saya akan adiknya. Mereka seolah saling melengkapi. Intimitas pun terjalin melalui sebuah dialog tatap muka di dalam kamar Saya.
Intimitas serupa dapat kita temukan dalam cerpen “Seseorang telah Mengubah Susunan Mawar itu” karya Gabriel García Márquez. Cerpen ini mengisahkan ‘Aku’, hantu laki-laki yang tinggal di sebuah rumah kuno bersama adik angkatnya. Ia meninggal 20 tahun silam, namun masih berdiam di sana untuk menemani perempuan yang disayanginya. Kedekatan mereka terjalin karena Si Aku selalu mengubah susunan bunga mawar yang ada di altarnya. Ia berharap Sang Adik dapat merasakan kehadirannya: bahwa mereka selalu bersama. Romantisisme hubungan kakak-beradik ini paling tidak senada dengan cerpen di atas.
Konflik hubungan ayah dan anak terlukis dalam cerpen “Pewarisan” karya Eun Hee Kyung. J, seorang laki-laki yang sudah berkeluarga harus menghadapi suka-duka kehidupan Sang Ayah yang sakit. Nilai kekeluargaan diuji ketika masalah menghadang. Penyakit ayahnya justru memperlihatkan bagaimana jalinan persaudaraan yang ada; di antara ayah-ibu, ayah-anak, dan kakak-adik. Topeng yang selama ini dipakai mulai terkuak. Berbagai kepentingan berbenturan. Namun, semua itu kembali mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Kematian Sang Ayah pun dihadapi dengan ikhlas.
Dalam “Laut dan Kupu-kupu” karya Kim In Suk, kita menemukan kegalauan yang mendalam. Seorang istri harus menjalani hidup berjauhan dengan suami. Istri di China, suami di Korea. Kehidupan rumah tangga mereka sangat memprihatinkan. Komunikasi tidak terjalin, bahkan Sang Suami tidak berhasrat lagi pada Sang Istri. Jika permasalahan sudah menginjak ranjang, pernikahan terancam. Sang Suami tak merasakan kehadiran istrinya. Sang Istri pun seolah melakukan monolog di atas panggung.
Rasa terpinggirkan mendorongnya pergi ke China. Dengan harapan Sang Suami mencegah. Jarak dimanfaatkan agar suaminya merasa kehilangan, namun tidak berhasil. Sang Istri pun terombang-ambing di negeri orang. Berharap akan sampai ke tepian, menyisir pantai, dan berkompromi dengan pasir. Seorang istri akan terus memeluk suami, walaupun Sang Suami tak mau. Akan terus mencintai, walaupun tak berbalas. Untuk apa kembali menjadi kepompong jika telah menjadi kupu-kupu. Yang dapat terbang bebas dan melihat keindahan hidup. Berikut kutipannya.
Walaupun tanpa lengan dan kaki, saya ingin memeluk tubuhnya. Dia tidak bisa memeluk saya karena tanpa tangan. (Laut dan Kupu-kupu: 304)
Cerpen Korea (Selatan) dekade 2000-an bergulir sejalan perkembangan zaman dan pikiran manusia. Kisahan semakin imajinatif dan menyentuh wilayah yang tak biasa. Tema-tema sederhana namun unik yang berpadu dengan style absurd membuat cerita lebih berwarna dan mengaduk jiwa. Hal ini terlihat pada cerpen “Betulkah? Saya Jerapah” karya Park Min Kyu. Tokoh ‘Saya’ adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai pushman, orang yang membantu penumpang agar cepat masuk ke dalam kereta bawah tanah. Pekerjaan ini terbilang asing di Indonesia, namun tentu kita paham bagaimana kesibukan transportasi kereta api.
Cerpen ini memperlihatkan bagaimana hubungan Korea dengan kereta api. Ada sebuah kosmologi di sana. Ketika dunia berputar pada setiap gerbong. Gerbong yang padat penumpang dengan segala persoalannya. Bagi Si Saya hidup pun adalah sebuah formula. Sebuah matematika. Yang penuh dengan rumus dan perhitungan. Ada kalanya kita salah memakai rumus dan alpa menghitung sehingga diperlukan sebuah kecermatan.
Kesadaran Si Saya akan bumi yang berputar pada porosnya serupa kereta api yang terus berputar pada lintasannya, pada rel. Hidup dirasakannya hanya sebuah dorongan, tanpa tarikan. Manusia dengan mudah dapat memasuki sebuah dunia, namun tak mampu meloloskan diri. Harus ada kuasa lain yang membantu kita. Namun Tuhan tidak hadir. Cerpen ini adalah gambaran ketika manusia terdorong dan terjerembab dalam kehidupan yang monoton. Dunia terasa begitu asing sehingga Si Saya berpikir mengenai planet lain, Mars dan Venus. Ia seolah ingin melarikan diri dan mencoba hidup di dunia lain.
Cerpen terakhir yang mewakili perkembangan kesusastraan Korea adalah “Menyeberangi Perbatasan” karya Jeon Sung Tae. Park menemukan hidupnya yang berbeda ketika melakukan perjalanan dari Kamboja ke Thailand. Ia ditempatkan dalam posisi sama, ataupun berseberangan dengan orang lain. Ia bertemu Jan, orang Jerman Timur, dan Naoko, orang Jepang. Park dan Jan berasal dari negara yang terbelah akibat konflik, sedangkan Naoko mewakili negara yang pernah menjajah Korea. Ternyata, istilah perbatasan dan penjajahan masih menimbulkan gejolak. Ketika menyeberangi perbatasan Park mendengar peluit mainan, ia terkejut lantas berlari. Hal itu pun dirasakan Jan. Latar belakang sejarah dan sosial mereka serupa: bahwa menyeberangi perbatasan dapat berarti kematian.
Bagi yang tak mengalami perpecahan negara tentu tidak dapat merasakan hal itu. Namun, di tengah jejak traumatis masa lalu, Park tidak dapat memungkiri perasaan alamiah manusia. Ia jatuh cinta pada Naoko. Perjalanan pun menjadi menarik. Naoko menyadari ketidaksukaan orang Korea pada orang Jepang. Di antara pembicaraan Park dan Jan mengenai orientalisme dan negara Korea yang terbagi dan pembicaraan Park dengan Kuroda mengenai pergaulan Asia, terbetik hal lain. Cinta dapat mengalahkan segalanya. Park tidak peduli Naoko orang Jepang dan terus mengikutinya. Pengalaman cinta yang sekejap dirasakan begitu berkesan. Peristiwa yang mungkin dianggap terlarang oleh sebagian orang.
Membaca cerpen Korea (Selatan) sepanjang masa terlihat potret utuh dari negara Korea; bahwa perang adalah masa lalu yang harus dihargai dan dimaknai secara positif; bahwa kehidupan terus berjalan dan dihadapi dengan semangat dan perjuangan untuk memilih; bahwa kehidupan dapat bergulir di mana saja, pada laut, pabrik, kereta api. Kosmologi Korea bergerak di antara laut, pabrik, dan kereta api. Di antara semangat zaman yang terus bergulir seiring perkembangan masyarakat dan budaya. Di antara keputusasaan, semangat pantang menyerah, rindu dan dendam, serta cinta dan benci.
Laut menggambarkan sebuah dunia yang luas dan penuh dinamika. Terus bergerak dan bergulung. Jika kita pasrah menghadapi segala hal dalam hidup, maka kita akan terombang-ambing dan terdampar. Menjadi yang terasing. Pabrik pun demikian, di dalamnya ada manusia yang berjuang dan bertahan. Pun pasrah pada nasib. Di sana mungkin saja tercipta sebuah dunia yang lebih luas dari yang kita sadari. Ketika manusia berhadapan dengan sesamanya dan lingkungannya. Ketika berhadapan dengan kuasa tertinggi: Sang Presiden Direktur.
Kosmologi melihat alam semesta dari berbagai sudut. Dari segala sistem yang membentuknya. Dari ruang dan waktu yang melingkupi dunia dan menimbulkan kesadaran pada manusia. Ketika berada dalam kereta api, kita dihadapkan pada sebuah dunia lain. Yang terus berputar dan bermuara pada satu titik: pada sebuah pertanyaan hakiki bagi manusia. Dari mana kita berasal, ke mana kita menuju, dan bagaimana semua ini akan berakhir? (Karlina Supelli, 2004: xiii) Manusia selalu terjebak dalam kenyataan yang membuat rasa keterasingan semakin membuncah. Namun, setiap orang tentu memiliki jawaban yang dianggap tepat. Lalu bagaimana orang Korea memandang hal ini.
Korea adalah negara yang belajar dari masa lalu dan menghargai sejarah. Dari situlah manusia kembali menyadari akan eksistensi sesungguhnya di dunia. Menjadikan sejarah sebagai rel panjang yang mengantar pada perjuangan tiada akhir. Bertahan di dunia dengan segala konsekuensinya. Menyadari bahwa semua akan berakhir. Lalu mengusahakan agar semua menjadi baik dan seindah mungkin. Orang Korea berusaha meletakkan manusia pada tempat tertinggi dengan segala sikap sentimentil dan melankolisnya. Kejujuran dan semangat perjuangan yang tinggi adalah budaya yang berakar dalam masyarakat Korea. Paling tidak itulah yang dapat dimaknai dari perjalanan panjang cerpen Korea (Selatan).
DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. 2000. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.